Lihat Juga

Tahlilan Memperingati Kematian, Bolehkah?

KlikPintarTahlilan Memperingati Kematian. Sebelum kita membahas tahlilan akan kami tekankan terlebih dahulu bahwa ini bukan sebuah media untuk berdebat, tulisan ini dibuat berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh penulis dalam menelusiri hukum tahlilan untuk memperingati kematian. Melalui tulisan ini akan kami tuturkan hasil penelusuran tentang tahlilan.

Tahlilan itu Zikir

Memang sajatinya tahlilan itu adalah aktivitas zikir atau mengingat Allah, dan itu memang disarankan dan bahkan wajib untuk dilakukan sebagai muslim. Ada keutamaan seseorang yang melakukan aktivitas mengingat Allah (zikir). Salah satu efek melakukan Zikir adalah hati yang akan menjadi tenteram sebagaimana dalil berikut :

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS 13:28]

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [QS Al Ahzab 33:41]

Jadi tiada larangan tentang aktivitas zikir tersebut dan zikir adalah sangat dianjurkan bagi umat islam. Bila ingin hati menjadi tenteram maka ingatlah Allah (zikir). Tapi masalahnya tidak sampai disitu saja, ada masalah  yang lebih besar dalam tahlilan memperingati kematian.

tahlilan peringatan kematian

Pandangan Ulama Terhadap Tahlilan Kematian

Masalah utamanya adalah bukan zikirnya, tetapi timing waktu dijalankannya aktivitas tersebut. Biasanya aktivitas tahlilan atau yasinan untuk memperingati kematian dilakukan dirumah keluarg yang tertimpa musibah kematian pada hari ke tujuh, empat puluh, seratrus, setahun, dan lain-lain. Juga keluarga yang tertimpa musibah harus menyediakan makanan untuk menjamu para peserta tahlilan.

Jika ada orang yang tidak mampu menjadi keluarga yang ditinggalkan, maka ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, sudah ditinggal mati masih harus menjamu peserta tahlilan. Nah, bagaimanakan hukumnya tahlilan ditempat dan waktu-waktu tersebut?

Sebenarnya waktu dilaksanakan ritual tahlilan yang identik dengan makan-makan tersebut bertentangan dengan sebuah hadis, sebuah hadis yang semua ulama sepakat untuk tidak men-dhoif-kannya, artinya semua ulama sepakat dengan hadis tersebut, hadis tersebut adalah :

Dari Jarir bin Abdullah al Bajalii, ia berkata,” Kami (para sahabat) menganggap berkumpul-kumpul ditempat ahli mayit dan membuat makanan sesudah ditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap (Niyahah yang terlarang).” (HR. Ibnu Madjah dan Ahmad)

Bahkan ulama NU terdahulu pun sepakat dengan hadis tersebut, kesepakatan ulama-ulama NU tersebut tertuang dalam Muktamar NU ke-1 di Surabaya 21 Oktober 1926, ulama-ulama NU sepakat Tahlilan Kematian adalah bagian dari Bid’ah Munkarah, karena termasuk dalam aktivitas meratapi kematian. Ulama NU waktu itu sepakat perbuatan tersebut merupakan perbuatan tercela, walaupun tidak sampai haram.

Ulama-ulama dan bahkan ulama NU terdahulu sudah mengatakan seperti itu, maka jika kita telusuri lebih jauh akan ada beberapa hadis riwayat muslim yang mengharamkannya, seperti :

“4 hal yang tedapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1) membangga-banggakan keturunan, (2) mencela keturunan (3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)” lalu beliau bersabda “Orang yang melakukan niyahah, bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkn pada hari kiamat & ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” (HR. Muslim no. 934)

Tahlilan Kematian Terdapat Dalam Kitab Weda

Tahlilan dan yasinan kematian ternyata ada dalil shahihnya, namun sayangnya dalil shahih tersebut bukan dalam al-quran maupun hadis. Malah peringatan kematian serupa terdapat dalam kitab weda, kitab suci orang Hindu. Dalam Kitab Manawa Dharma Sastra Weda Smerti hal. 99, 192, 193 yang berbunyi :

Termashurlah selamatan yang diadakan pada hari pertama, ketujuh, empat puluh, seratus dan seribu.”

Dalam buku media Hindu yang berjudul : “Nilai-nilai Hindu dalam budaya Jawa, serpihan yang tertinggal” karya : Ida Bedande Adi Suripto, ia mengatakan : “Upacara selamatan untuk memperingati hari kematian orang Jawa hari ke 1, 7, 40, 100, dan 1000 hari, jelas adalah ajaran Hindu”. Nah, kini jelas bukan?

Untuk mengakhiri untaian kata ini, ada baiknya kami kutip hadis:

“Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wasallam bersabda:”Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut”(HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

“Jauhilah oleh kalian perkara baru dalam agama kami, sebab perkara yang tak pernah kmi contohkan tertolak amalannya” (HR. Bukhari)

Mohon maaf atas segala kesalahan, sekali lagi saya tegaskan ini bukan untuk berdebat tapi hanya sebuah penelusuran yang dilakukan oleh penulis, bagi pembaca kami sangat merekomendasikan kepada anda untuk mengecek hadis-hadis diatas didalam kitab. Segala kebenaran hanya milik Allah.

Semoga kita bijak dalam mempelajari Ilmu. Kami tidak menghakimi benar atau salah, semoga ini menjadi pembuka wawasan kita tentang tahlilan.

Tahlilan Memperingati Kematian, Bolehkah? 5.00/5 (100.00%) 2 votes

Kata Kunci:

apa hukumnya memperingati kematian, larangan memperingati kematian dalam syariat islam, Memperingati 40 hari meninggal dlm islam, memperingati 40 hari wafat seseorang, memperingati hari ke 40 meninggalnya seseorang, memperingati tujuh hari kematian, pandangan islam tentang peringatan3hari kematian, pendapat Islam tentang tahlilan 7 hari kematian Dan 40 hari kematian, perayaan 40 hari kematian dalam islam, peringatan kematian, peringatan seratus hari kematian, kenapa orang tidak memperingati hari kematian, kenapa ada 7 hari memperingati kematian, hukum tentang memperingati 1000 hari orang meninggal, bagimana hukum peringatan 7 hari orang meninggai menurut islam, foto orang baru tahlilan, hukum islam 7 harian kematia, hukum islam tentang merayakan 7 hari orang meninggal, hukum melaksanakan peringatan 7hari 40hari 100hari dan 1000hari kematian, hukum memperingati hari ke tujuh kematian, Hukum memperingati hari kematian, hukum memperingati hari Kematian Tujuh hari, hukum peringatan 7 hari kematian, hukum peringatan hari kematian, tahlilan

15 comments

  1. Mantap, ini! Jazakumullah…

  2. kalau kang baca ini orang-orang muhamadiyah wa ahwatuha pasti setuju, tapi kalau yang baca orang-orang NU wa ahwatuha pasti tidak setuju. tapi kalo yang baca bukan kedua-duanya tidak setuju.

  3. masalah waktu yah? orang kristen ibadahnya tiap hari minggu, trus kalau umat muslim minggu libur biasanya ikut pengajian rutin mingguan? waktunya sama apa salah yah? dosakah?

    setiap agama intinya memerintah/mengajar kepada kebaikan "dalam tanda kutip" tapi yang beda cuma diaqidahnya beda, di dalam agama lain juga diperintahkan supaya suka memberi dalam islam dikenal zakat sodaqoh, tapi pemberian mereka tidak pahala, tapi zakat kita dapat pahala karena kita orang islam.

    apakah ada batasan waktu untuk tahlil? (mengucap la ila ha illalloh?) apa salah mendoakan orang sesama muslim?

    ibadah itu ada ibadah mahdoh dan ibadah ghoiru mahdoh!

  4. sebenarnya salah kalau kita nengambil keputusan setuju tudak setuju, ini bukan poling. mestinya kita buka pemikiran kita, kita ini umat muslim , kita melaksanakan ibadah sesuai apa yag diajarkan nabi muhammad betulkan? kalau peringatan 7 hari, 40 hari, 100 hari dst itu nabi ajarkan tidak? kalau ya tentu kita harus ikuti, tapi kalau tidak ya tentunya jangan kita kerjakan. Seahli ahli nya orang islam beribadah adalah nabi muhammad betulkan? kalau yang paling ahli beribadah nabi muhammad dan nabi tidak mengerjakan mengapa kita melakukan? kita kan tidak lebih pintar beribadah dibandingkan nabi muhammad. Gimana?

  5. Khamim Kurniawan

    trus kenapa alloh buat selamatan di al qur an.dan sebenarnya ada selamatan ada dalam al qur an. dan tentang kitab weda bukan selamatan aja yg disebut tapi ada rusulluloh saw juga ada. sapa yg mau tau sms aja ke 081254899996.jadi selamatan ada dasarnya dalam qur an. yg bikin tulisan di blog ini tolng belajar dulu

  6. nice post

  7. tahlil kan kalimat La ila ha Illalloh tiada tuhan selain Allah, kalau ada orang yang melarang orang islam untuk mengesakan Allah, pasti orang selain Islam! misionaris.

  8. Top markotop, setuju terimakasih

  9. Mantap pembahasannya. Cuma ane mo kasih saran, sebelum posting yang beginian baca dulu :
    -Syarh An- Nawawi 'alaa Shahih Muslim
    -Qawaid Al Ahkam
    -Syarh Sunan Ibnu Majah
    Ingatlah saudaraku, jangan merasa paling benar karena Yang Paling Benar hanya Allah SWT.

    قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُم اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَاَهْدَى سَبِيْلاً
    “Katakanlah (hai Muhammad) : Biarlah setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, karena Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih lurus (jalan yang ditempuhnya).” (Al-Isra’ : 84)

    Hadits riwayat At-Thabrani dalam Al-Kabir ada sebuah hadits dari Abdullah bin Umar dengan isnad yang baik bahwa Rasulallah saw.pernah memerintahkan:
    كُفُّوْا عَنْ أهْلِ (لاَ إِِلَهَ إِلاَّ اللهُ) لاَ تُكَفِّرُوهُمْ بِذَنْبٍ وَفِى رِوَايَةٍ وَلاَ تُخْرِجُوْهُمْ مِنَ الإِسْلاَمِ بِعَمَلٍ.
    “Tahanlah diri kalian (jangan menyerang) orang ahli ‘Laa ilaaha illallah’ (yakni orang Muslim). Janganlah kalian mengkafirkan mereka karena suatu dosa”. Dalam riwayat lain dikatakan : “Janganlah kalian mengeluarkan mereka dari Islam karena suatu amal ( perbuatan)”.

    Semoga Allah memberikan hidayahnya kepada kita semua dan melindungi kita dari segala bentuk kemusyrikan.

  10. Dlm agama Hindu dan budha tingkatan tertinggi dlm kematian adalah pembakaran mayat, dan dlm hindu budha tdk ada sembayangan 3hr, 7 hr, dan 40 hari, jdi peringatan itu bkn ajaran hindu. pahami tdk 1 hdist baca yg lain jg!

  11. pernah lihat ustad dari jatim yg menjelaskan semuanya belum pak.

  12. sebelumnya kami mohon maaf
    dari uraian sodara, kami mendapat 3 kejanggalan,
    1.masalah menyediakan kenduri,
    pihak keluarga mayit tidak diwajibkan menyediakan makanan, namun mereka berhak untuk melakukan kebaikan dengan cara bersedekah se alakadar makanan, jadi hal demikian tidak menyimpang dengan syariat

    2.masalah hadis yang sodara sebutkan
    hadis tersebut semua ada, dan sahih, namun ada baiknya kita teliti arti hadis tsb,
    dalam hadis terdapat kalimat na'yi
    , arti na'yi ialah meratap dengan cara merepet, merobek baju, melempar debu ke muka,
    jadi pahami bahasa arab sebelum mengumbar hadis,
    masyarakat pelaksana tahlil belum ada yang bertahlil dg cara meratap.

    3.tahlil ada dlm kitab weda,
    sesuatu yang bernilai kebaikan tak mesti di tinggalkan karna orang lain mengerjakannya, terlalu bodoh orang yang meninggalkan salat karna orang lain juga meninggalkannya.

    sekian

  13. kan sudah di katakn tadi,,ini bukan ajang debat,,.mengapa mesti kalian pusing2…saya setuju apa yang dikatakan saudara triyono agus raharjo tadi, bahwa sudah cukuplah apa yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW, mari kita cari sama2, apakah perkara ini pernah di kerjakan oleh Rasulullah SAW atau tidak. paling tidak pernahkah dikerjakan oleh para sahabat yang empat?( abu bakar, umar,usman,ali) klo memang pernah ada..monggo berarti emang boleh ,tapi klo tidak pernah dikerjakan/ di contoh kan..ya Jangan dikerjakan dong..karna para sahabat di jaman Nabi SAW, mereka adalah orang2 yang terhebat dari segi amalan ibadahnya..jika ada amalan yg baik, pastilah mereka sudah mendahului untuk mengerjakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top