Sejarah Israel dan Palestina

Pembantaian Muslim Palestina tampaknya jadi “pertunjukan layar kaca paling lama” yang pernah diputar, mempertontonkan kebiadaban Israel laknatullah, episode demi episode ditayangkan tiap waktunya kepada kaum Muslim. anehnya, kaum Muslim bersedih duka saat saksikan pembunuhan saudara-saudara mereka saat itu, namun membiarkan terulang episode berikutnya. mengumpat dan mengutuk kita lakukan saat dipertontonkan penyiksaan dan kesakitan mereka, namun semua selalu terulang kembali.

Ingatkah kita pada tahun 2009, syahid 1.300 Muslim kurang dari 1 bulan di tangan Israel? tahun 2010 saat insiden freedom flotilla? Anehnya, sampai sekarang banyak Muslim akhirnya masih berharap pada PBB, AS dan dunia untuk selesaikan masalah Palestina. Ada baiknya kita mengingat kembali sejarah munculnya konflik Palestina-Israel, agar kita bisa memberikan sikap yang tepat untuknya. Jalur Gaza, adalah sebentang tanah kaum Muslim yang tersisa setelah dirampas dunia barat, ‘penjara’ terbesar di dunia saat ini. Jalur Gaza, dikelilingi tembok beton tinggi, hingga Muslim disana terperangkap untuk dibunuh. tembok yg kelilingi gaza miliki 8 pintu, 7 pintu mengarah wilayah Israel, 1 pintu berbatas dgn Mesir, pintu rafah. Dan pintu rafah inipun ditutup rapat oleh Mesir tatkala Gaza dibantai pada 2009 dibawah Husni Mobarak waktu itu, yang menyedihkan, untuk menghalangi lorong bawah tanah ke Mesir, pemerintah membangun tembok baja bawah tanah. lebih menyakitkan lagi, tembok baja bawah tanah ini dishahihkan oleh fatwa grand syaikh al-azhar Thanthawi, yang katakan “itu syar’i!”

Begitulah penguasa Muslim di Arab berdiam diri terhadap Gaza, mereka malah membantu Yahudi laknatullah. Tanah Palestina, memang tanah penuh pesona bagi 3 agama langit, baik untuk Yahudi, Kristen dan Islam tentu saja. bagi kaum Nasrani, tanah itu adalah tempat lahir dan kematian Yesus, dan tempat bersejarah bagi mereka. bagi kaum Yahudi, tanah itu adalah promises land (tanah terjanji) Tanah yang dijanjikan oleh tuhan. bagi kaum Muslim, tanah itu adalah kiblat pertama mereka, al-aqsha, serta tanah isra-mi’raj, tanah yang dialiri darah syuhada.

wilayah palestina

Sampai akhir abad 18, tanah Palestina masih dibawah Khilafah Utsmaniyyah, dan saat itulah muncul gerakan Zionisme pd 1987. Theodore Hertzl, bapak Zionis lalu mendatangi Khalifah Abdul Hamid II berniat membeli tanah Palestina untuk didirikan negara Israel. “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku” jawab Abdul Hamid II tegas, tak jera Hertzl datang kembali 5 tahun berselang. pada tahun 1902 Hertzl datang berniat menyuap Khalifah dengan 150 juta pound, juga membayar hutang Khilafah 33 juta pound, dan pinjaman lainnya, tapi semua itu dijawab: “nasihati Dr. Hertzl, jangan teruskan rencananya, aku takkan lepaskan walau segenggam tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam yang telah berjihad demi kepentingan tanah ini, menyiraminya dengan darah Yahudi silakan simpan harta mereka, jika Daulah Khilafah Utsmaniyah dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka boleh mengambil Palestina tanpa membayar harganya, sementara masih hidup, aku lebih rela tusukkan pedang ke tubuh daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisah dari Daulah Islamiyah, perpisahan adalah sesuatu yang takkan terjadi, aku takkan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup” (Abdul Hamid II, 1902)

Begitulah ketegasan Abdul Hamid II berkenaan tanah Palestina, tak seujung kuku terusik saat Khilafah Islam masih mewujud. saat itu Khilafah masih menjadi tameng bagi ummat, walau lemah ia masih ditakuti kawan dan disegani kawan. kala itu, walau Muslim luas wilayahnya, namun mereka diatur dengan aturan yang padu, Al-Qur’an dan As-Sunnah, 1 aturan untuk 1 ummat. saat itu bendera hanya 1, hitam/putih bertahtakan kalimat syahadat, sebagaimana “panji Rasulullah warnanya hitam dan benderanya putih”. Di waktu itu belum ada Indonesia, belum juga Mesir, Arab, Turki, Libya, Nigeria, India dan lainnya, mereka hanya 1 nama, Khilafah Islam. Khilafah adalah sistem pemerintahan warisan Rasulullah lewat hadits beliau, dan pemimpin khilafah ini beliau panggil sebagai Khalifah

Petaka itu kemudian datang atas nama Perang Dunia I, 1914-1917, kaum Muslim terjebak perang melawan sekutu dan kalah total. wilayah Islam yang padu tersebut dikerat oleh penjajah Inggris dan Prancis lewat perjanjian Sykes-picot pada 1917. Salah satu poin dalam perjanjian itu adalah menjadikan Palestina sebagai ‘tanah bersama’ Inggris dan Prancis. Namun Inggrislah penguasa sebenarnya Palestina, lewat lobi Yahudi yang dimotori Rothchilds, maka lahirlah deklarasi Balfour. Sir Arthur James Balfour menegaskan dalam Deklarasi ini, izin ratu Elizabeth dan penghargaan mereka untuk yahudi yang inginkan Palestina.

“His Majesty’s government view with favour the establishment in Palestine of a national home for the Jewish people, and will use their best endeavours to facilitate the achievement of this object” Begitu bunyi deklarasi Balfour 1917. Sejak saat itu, mimpi buruk kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk Palestina resmi dimulai. Inggris bergegas dudukkan militer ke tanah Palestin, Jendral Allenby lalu katakan “Today the wars of the Crusaders are completed”. Untuk melegalkan migrasi Yahudi ke tanah Palestina, maka Inggris melalui LBB (liga bangsa-bangsa) menerbitkan ‘Mandate for Palestine’ pada 1922. Sejak saat itu ratusan ribu Yahudi mulai bermukim di tanah kaum Muslim, dan pembantaian kaum Muslim dimulakan pula. Pasca PD II thn 1945, Amerika yang mengambil alih dunia dari Inggris mengganti LBB menjadi PBB dan melanjutkan penubuhan negara Israel. Lewat lobi-lobi Yahudi internasional, Harry Truman, presiden AS menjadikan PBB sebagai kakitangannya untuk melegalkan Israel. Puncaknya tahun 1947, PBB secara resmi membagi tanah Palestina 55% uutuk Israel dan 45% untuk Muslim.

Nyata sudah, Israel adalah negara, dimana ayahnya adalah Inggris, ibunya adalah Amerika dan PBB lah yang membidaninya. Maka jangan heran bila PBB tak pernah tegas dalam masalah Israel, itu adalah anak yang dilahirkannya. juga jangan berharap AS dan Inggris akan mengganggu Israel, itu adalah anak kandungnya! sampai kapanpun akan dibela. sebaliknya, penduduk Palestina menjadi stateless, tak diaku dunia sebagai negara dan tak punya hak apapun sebagai manusia, selalu dicela. Maka jika mereka bela nyawa, terorisme namanya dan bila Israel membunuh mereka, pre-emptive attack sebutannya, tindalkan bela diri. Selepas itu, migrasi Yahudi bertambah subur di tanah Palestina, sedikit demi sedikit Israel mulai meluaskan wilayah.

Pembantaian tak kenal waktu, segala jenis racun dan metode pembunuhan telah disaksikan tanah Palestina lebih banyak, mulai dari situ. dunia Islam bergejolak, menangis, menahan buncah semangat, intifadha di seluruh dunia mengarah pada Palestina. hal ini  membuat seluruh penguasa negara Muslim mengadakan drama peperangan palsu terhadap Israel, untuk meredam gejolak intifadha. perang rekayasa Arab-Israel berlangsung tahun 1848, 1956, 1967 dan 1973, dan semuanya diakhiri dengan kekalahan negara-negara Muslim. disitulah mitos Israel tak tertandingi muncul, padahal pengkhianatan penguasa-penguasa Muslimlah penyebabnya, bukan kekuatan Israel. Pasca kemenangan perang enam hari atas negara-negara Arab, Israel lalu menggariskan batas baru antara tanahnya dan tanah kaum Muslim.

Batas tahun 1967 inilah yg diusung Obama sebagai penyelesaian, dan didukung tokoh-tokoh Muslim Indonesia, mungkin karena mengikut Obama. Menyakitkan, mendukung garis batas 1967 sama saja mengkhianati perjuangan umat, karena tak sejengkalpun harusnya diberi pada Israel. Bahkan sekadar mengakui kemerdekaan Israel thn 1948 saja seharusnya tak keluar dari lisan kita. Jadi, bagaimanakah penyelesaian sebenarnya untuk masalah Palestina? Banyak yang mengajukan opsi :

1) PBB harus bertindak >> bagaimana mungkin? puluhan janji damai tak berguna, PBB mandul, lagipula ingat siapa yang membidani Israel?

 2) AS harus bertindak? >> anda lupa ibunya Israel? Anda lupa bagaimana bush dan obama berkali-kali tegaskan sikap membantu Israel? Bahkan Obama pernah menjamin akan berikan US$30 milyar dalam pidatonya di AIPAC, juga janjikan bantuan senjata terbaik.

3) OKI harus bertindak? >> sekedar kecaman dan kutukan, itulah yang terbaik mereka lakukan.

Maka harus dipahami, bahwa yang terjadi di Palestina saat ini adalah pembantaian yang menghasilkan jatuhnya korban. terhadap korban, maka tindakan konkritnya adalah pengumpulan uang, material, atau bantuan medis dan kesehatan kepadanya. Namun pembantaian itupun harus dihentikan, dan sampai sekarang tak satupun cara yang bisa hentikan Israel dan kebiadabannya. Maka Israel hanya mengerti kata fisik, bukan negosiasi dan perdamaian, jihad fi sabilillah adalah satu2nya solusi, dan jihad ini telah merebak, baik oleh HAMAS, Hizbullah, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, atau organisasi apapun di Palestina. Hanya saja ini belum cukup, haruslah dilanjutkan dengan kekuatan total kaum Muslim, yang takkan bisa dimaksimalkan tanpa Imam/Khalifah. Maka sebagaimana penyebabnya, maka solusi total bagi masalah Palestina dan pembantaian lainnya adalah kembalinya Khilafah Islam. Dan Khilafahlah yang akan memobilisasi jihad, satu-satunya kata yang dimengerti oleh Yahudi laknatullah.

**Edited from ust felixsiauw tweet

Sejarah Israel dan Palestina
5 (100%) 4 votes

Komentar Untuk Sejarah Israel dan Palestina :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top